BERITA TERBARU
Home / Berita Satuan / Danramil 04/Warureja Memberikan Materi Tentang Perkembangan Paham Radikalisme di Indonesia
Danramil 04/Warureja Memberikan Materi Tentang Perkembangan Paham Radikalisme di Indonesia

Danramil 04/Warureja Memberikan Materi Tentang Perkembangan Paham Radikalisme di Indonesia

Danramil 04/Kapten Inf Radiyono memberikan Materi tentang perkembangan paham radikalisme di Indonesia dalam giat sosialisasi Balatkom dan Paham Radikalisme bertempat di Aula Makodim 0712/Tegal kepada anggota TNI, PNS dan KBT jajaran Kodim 0712/Tegal

Berkembangnya paham-paham radikal seperti Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Indonesia, dinilai tumbuh pesat sejak era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Sikap pemerintah yang dianggap salah dalam menyikapi kelompok yang dianggap sesat, dianggap memberikan pembenaran untuk melakukan kekerasan.

Danramil 04/Warureja Kapten Inf Radiyono mengatakan Pemerintah yang terus-menerus menekan kelompok Ahmadiyah dan Syiah, secara tidak langsung membangkitkan semangat organisasi militan untuk membasmi kelompok minoritas tersebut. Menurutnya, semangat militan yang semakin tumbuh tersebut menyebabkan munculnya kembali keinginan untuk membentuk negara Islam di Indonesia.

Atas alasan itulah, paham ISIS untuk mendirikan negara Islam dapat diterima beberapa kelompok radikal yang sudah ada sebelumnya di Indonesia.

“Bisa jadi, anggota Hizbut Tahrir dan NII ingin cepat wujudkan negara Islam. Mereka melihat ada harapan untuk mendirikan negara Islam melalui ISIS, maka mereka berangkat ke sana,” kata Kapten Inf Radiyono.

Sekecil apa pun, gerakan radikalisme yang tidak sesuai asas dan ideologi negara memang harus ditumpas. Namun, menurut dia, caranya tidak bisa sekadar represif, atau secara militeristik. Menurut Danramil 04/Warureja, cara-cara militeristik memang cukup berhasil digunakan pada zaman orde baru. Namun, cara tersebut rawan digunakan penguasa untuk mematikan lawan-lawan politik.

“Cara yang paling bisa untuk dilakukan adalah dengan memperkuat sistem ketahanan nasional dan ideologi bangsa. Selain itu, melalui pendekatan-pendekatan yang lebih sistematis,”Kata Kapten Radiyono.

Bahkan tidak sedikit figur atau kelompok yang sebelumnya berseberangan dengan jejaring Jemaah Islamiyah (JI) ikut bergabung untuk berjihad ke Timur Tengah. Hal ini menurutnya berdampak terhadap perkembangan paham radikal di Indonesia

Fenomena tersebut tidak boleh dianggap remeh oleh pemerintah, karena akan menjadi ancaman serius bagi keragaman dan kebhinekaan Indonesia. Pendekatan kekerasan yang terlegitimasi agama sebagaimana dipraktikkan oleh ISIS di Timur Tengah bisa saja diterapkan disini.

Program kontra radikal dan deradikalisi bisa dilakukan dengan mengidentifikasikan perseorangan atau kelompok dengan tujuan timur tengah yang diduga akan bergabung dengan ISIS dan saat bersamaan memetakan perseorangan dan kelompok yang masuk ke Indonesia yang diduga berasal dari Irak dan Suriah. Hal ini juga harus melibatkan instansi diluar BNPT dan Polri, misalnya TNI, BIN, Kemlu, Imigrasi dan sebagainya.

“Sedikit saja pemerintah lengah dan lambat dalam merespon hal tersebut, maka ancaman aksi teror dan kekerasan atas nama agama dan ancaman atas keberagaman Indonesia bukan sekedar wacana,”Kata Kapten Inf Radiyono

Twitter widget by Rimon Habib - BuddyPress Expert Developer