BERITA TERBARU
Home / Uncategorized / Danrem 071/Wk Panen Raya Padi Di LLIP Padi Purbalingga
Danrem 071/Wk Panen Raya Padi Di LLIP Padi Purbalingga

Danrem 071/Wk Panen Raya Padi Di LLIP Padi Purbalingga

Danrem 071/Wk Kolonel Inf Dwi Wahyu Winarto, S.I.P., M.M. melaksanakan panen raya padi di Laboratorium Lapang Inovasi Padi (LLIP) di Desa Pegandekan Kec. Kemangkon Kab. Purbalingga, baru-baru ini.

Pada kesempatan tersebut dalam sambutannya, Danrem 071/Wk Kolonel Inf Dwi Wahyu Winarto, S.I.P., M.M. menyampaikan bahwa satu hal positif yang saya lihat disini dalam kegiatan ini yakni keterpaduan, soliditas dan kerjasama antara semua komponen yang ada dari gapoktan sangat kompak, penyuluhnya aktif dilapangan dan para Babinsa diwilayah ini juga aktif.

“Kalau saya bicara soal ketahanan nasional, maka ketahanan pangan merupakan bagian dari ketahanan nasional. Ketahanan pangan kita terbengkelai maka itu ada kaitannya dengan perut. Banyak uang tidak ada yang untuk mengisi perut, tidak ada artinya. Apakah artinya kita akan makan uang, tidak. Kita belum bisa menciptakan tablet untuk satu bulan. Jadi ini sangat strategis, maka pemerintah dalam waktu 3 tahun mendatang sudah mencanangkan sudah harus swasembada pangan”, terangnya.

Dikatakan bahwa, TNI mempunyai kewajiban hal itu dalam menyukseskan swasembada pangan, karena ada keterkaitan ketahanan pangan dengan ketahanan nasional.

Danrem 071/Wk menyampaikan sangat bersyukur karena pada akhir-akhir ini, Pegandekan menjadi sorotan publik. “Ini misi dan kepercayaan, harapannya agar setelah Pegandekan dan Karangtengah muncul Desa-desa lainnya seperti ini. Ini pilot projek. Sebagai contoh tentang pompanisasi yang sudah dilakukan disana, saya lihat dan kita peduli bahwa saluran irigasi harus kita tingkatkan kembali. Irigasi juga sangat penting dan kita butuhkan dalam ketahanan pangan ini.

Saluran sekunder kemudian tersier dibangun, namun hal tersebut belum tercukupi oleh daerah paling bawah, kalau daerah atas masih ada air akan tetapi saluran irigasinya masih terbengkelai maka akan muncul problem. Hal ini perlu mendapat perhatian dari pemerintah daerah dan dinas lainnya.

“Dari sumber daya alam ada, kaitannya dengan kadar air, maka saya sampaikan kepada Dandim dan jajarannya agar mengecek mata air disekitar sini. Oleh karena itu, bila ada, kami mohon bantuannya diberikannya pompa air”, terangnya.

Ketersediaannya air, merupakan bagian dari meningkatkan hasil pertanian. Oleh karena itu, dengan diniati dengan ibadah Insyaallah yang memberikan bantuan masuk surga.

“Keterpaduan, kekompakan, soliditas dan kerjasama ini menunjukkan hasil, tidak bisa bekerja sendiri-sendiri. Petani tok tidak bisa, penyuluh saja nggak ada petani tidak bisa, ada dinas ada balai pertanian nggak akan bisa. Maka semuanya ini saling mempengaruhi”, paparnya.

Harapan kedepan agar para petani diperhatikan, kerjasama dengan bulog, penyerapan gabah oleh bulog harus maksimal, Babinsa, Danrami dan Dandim harus membantu penyerapan gabah karena harus ada stok beras nasional sehingga tidak ada lagi istilah impor bersa. Gabah harus terus kita timbun, hal ii guna mencegah adanya impor beras tadi.

“Terima kasih atas kerjasamanya, tiga pilar ini harus menyatu terus, saya salut, bangga dilapangan dan dimana harus terus kompak dibantu PPL dan gapoktan. Tidak hanya disini, akan tetapi di desa lainnya”, sambungnya.

Pada kesemptan yang sama, Danrem menyampaikan bahwa sebetulnya bukan panen rayanya saja akan tetapi prosesnya yang perlu kita lihat. Proses kita lihat dan itu ada seninya, dimana permasalahan kita atasi disitu.

“Saya sampaikan kepada Dandim, Danramil, Babinsa agar mengawal petani pada saat musim kemarau ini. Dalam musim kemarau ini, air dapat menimbulkan permasalahan bagi para petani. Pembagian air harus merata, kalau bukan gilirannya jangan memakai air akan tetapi pada saat mendapat gilirannya pakailah air itu. Oleh karena itu, Babinsa harus mengawal dari ujung ke ujung. Karena apabila tidak dilakukan seperti itu, dapat menimbulkan terjadinya perkelahian, pertikaian dan bahkan bunuh membunuh antar petani gara-gara pembagian air tidak merata. Babinsa harus bekerjsama tentang hal itu, Babinsa harus mengawal”, tegasnya.

Panen raya program LLIP padi dengan melakukan kegiatan penerapan alat mesin, produksi benih VUB padi, denfarm PTT padi, dan adaptasi VUB padi hadiri perwakilan dari Kementrian pertanian, Bupati beserta Forkopimda Purbalingga, para dinas terkait, gapoktan, penyuluh, Muspika Kec. Kemangkon beserta Forkompim Kecamatan Kemangkon.

Pada kegiatan ini Kepala Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Dr. Ali Jamil melaporkan bahwa kegiatan LLIP ini merupakan show window hasil-hasil Litbang Pertanian yang dilaksanakan pada kawasan LLIP 100 ha. Dalam kawasan ini meliputi kegiatan: Produksi benih VUB padi (30 ha) dengan dukungan teknologi antara lain benih VUB Padi kelas SS (Situbagendit, Inpari 30, Inpari, 32, dan lain-lain), teknik produksi benih, pemupukan (mengacu pada spesifik lokasi), sertifikasi, dan pendampingan. b) Penerapan Alsintan (40 ha) dengan dukungan teknologi alsintan (transplanter indo jarwo 2:1, power weeder, dan MICO Harvester), cara tanam Jarwo 2:1, benih VUB Padi kelas SS (Situbagendit/Logawa, Inpari 30 dan VUB lain), pemupukan (mengacu pada spesifik lokasi), dan pendampingan oleh PPL dan Babinsa. c) Adaptasi VUB Padi (10 ha), dengan dukungan teknologi benih VUB Padi (Inpari 23, Inpari 30, Inpari 31, Inpari 32, dan VUB lain), cara tanam legowo 2:1, pemupukan (mengacu pada spesifik lokasi), dan pendampingan. d) Demfarm PTT (20 ha) dengan dukungan teknologi cara tanam legowo 2:1, benih VUB Padi (Inpari 31, Inpari 32, Logawa, Situbagendit), pemupukan (mengacu pada spesifik lokasi), dan pendampingan. Kegiatan demfarm PTT menekankan pada penerapan PTT di tingkat petani.

Hasil ubinan dari masing-masing varietas di lokasi LLIP adalah sebagai berikut (t GKG/ha): Logawa= 10,36 ton/ha; Situ Bagendit= 9,62 ton/ha; Inpari 30= 9,36 ton/ha; Inpari 31= 9,31 ton/ha dan Inpari 32 HDB= 10,54 ton/ha. Sedangkan di lahan petani bukan peserta dgn var Logawa dan Situ Bagendit sekitar 7-8 t GKG/ha. Inpari 32 HDB sangat diminati petani dan menjanjikan sebagai pengganti Ciherang ke depan karena memiliki sifat lebih baik dari Ciherang antara lain provitas lebih tinggi dan tahan HDB, dll.

“Saya sangat senang dengan para petani kita di Karang Tengah dan Pegandekan, bahwa sepanjang ada air mereka langsung tanam, jadi target pak Menteri untuk mencapai swasembada pangan kalo melihat pegandekan, Kemangkon, Purbalingga itu kami sangat yakin itu akan tercapai dan ter-maintenance untuk beberapa tahun kedepan” cetus Pak Ali Jamil saat menyampaikan sambutannya dihadapan ratusan petani Kemangkon.

Perlu diketahui bahwa target produksi Kabupaten Purbalingga sebesar 252.965 ton GKG dengan luas panen 38.975 ha. Pemerintah Daerah melalui sambutan Bupati Purbalingga menyambut baik dengan adanya LLIP seluas 100 ha yang secara bersama-sama dilaksanakan panen dengan alat pananen Mico Harvester. Tentu penggunaan alat mesin pertanian ini perlu disosilasikan kepada para petani sehingga permasalahan tenaga kerja secara bertahap bisa diatasi.

Petani sangat senang karena walau dengan keterbatasan air di MK ini dan walau daerah irigasi namun karena posisinya di hilir maka sering tidak kebagian air dan kita bantu dengan membuatkan sumur dangkal dgn pompa dari masyarakat serta karena menanam Situ Bagendit (Amfibi) kita, Alhamdulillah petani bisa dapat hasil panen melebihi 9 t GKG/ha. Arahan utama dari Bapak Mentan yang disampaikan oleh Bapak Ka BPPSDMP antara lain adalah perlunya replikasi keberhasilan penerapan inovassi pertanian hasil litbang pada LLIP ini ke luar desa/kecamatan/Kabupaten dam bahkan ke Provinsi lain.

Twitter widget by Rimon Habib - BuddyPress Expert Developer