BERITA TERBARU
Home / Berita Satuan / Keluarga Asuh dalam Pembinaan Teritorial Satgas Pamtas Yonif 407/PK
Keluarga Asuh dalam Pembinaan Teritorial Satgas Pamtas Yonif 407/PK

Keluarga Asuh dalam Pembinaan Teritorial Satgas Pamtas Yonif 407/PK

Wilayah perbatasan memiliki arti penting dalam penentuan batas wilayah kedaulatan suatu negara. selain itu, wilayah perbatasan memiliki kompleksitas tersendiri karena bersinggungan dengan kedaulatan negara lain. TNI memiliki tugas menegakkan kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara. Tugas pengamanan perbatasan oleh TNI termasuk salah satu tugas pokok di dalam operasi militer selain perang (OMSP).

Satgas Pamtas Yonif 407/Padmakusuma merupakan satuan tugas pengamanan perbatasan Papua – PNG yang terletak di sektor Selatan Merauke, mulai dari Kondo hingga Makadi dengan rentang jarak 225 KM. Terhitung mulai tanggal 1 Juni 2016, dengan jumlah 450 prajurit Yonif 407/PK memiliki tugas mengamankan wilayah perbatasan, pengamanan patok batas negara, dalam hal ini mengecek kondisi patok batas untuk menghindari dari kerusakan atau pergeseran dan memastikan wilayah sekitar perbatasan dalam keadaan aman. Tugas berikutnya adalah mencegah terjadinya kegiatan-kegiatan illegal di wilayah perbatasan.

Selain kedua tugas tersebut, Yonif 407/PK sebagai salah satu satuan tugas pengamanan perbatasan RI-PNG di sektor Selatan Merauke dituntut untuk mampu mengoptimalkan fungsi pembinaan teritorial di wilayah perbatasan. Jika pembinaan teritorial dilakukan oleh TNI, maka pada hakikatnya adalah pemberdayaan wilayah pertahanan darat bagi kepentingan pertahanan. Hal ini sesuai dengan tugas pokok TNI sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia.

Untuk menunjang pelaksanaan tugas sebagai pengaman perbatasan mencapai kondisi yang diharapkan, maka konsekuensi yang perlu ditempuh adalah melakukan pembinaan ke dalam organisasi satuan tugas dan pembinaan terhadap masyarakat sekitar wilayah perbatasan. Upaya yang ditempuh adalah melalui peningkatan profesionalisme prajurit Satgas yang meliputi peningkatan kemampuan teritorial, sementara pembinaan terhadap masyarakat ditempuh melalui penerapan pembinaan teritorial dengan metoda keluarga asuh.
Keluarga Asuh dan Intervensi

Keluarga asuh terdiri dari 2 (dua) kata, yakni keluarga dan asuh. Yang dimaksud dengan keluarga adalah suatu unit dasar dan unsur yang fundamental di dalam masyarakat. Jika berdasarkan hubungan darah, keluarga adalah suatu kesatuan yang diikat oleh hubungan darah antara satu dengan yang lain. Akan tetapi berdasarkan hubungan sosial, keluarga merupakan suatu kesatuan yang diikat oleh adanya saling berhubungan atau interaksi dan saling mempengaruhi antara satu dengan yang lainnya, walaupun di antara mereka tidak terdapat suatu hubungan darah.

Sementara asuh diartikan sebagai menjaga, merawat, mendidik, membimbing, membantu dan melatih. Dengan demikian asuh merupakan suatu gaya mendidik dan membimbing yang dilakukan di dalam proses interaksi yang bertujuan memperoleh suatu perilaku yang diinginkan. Tujuan dari mengasuh adalah membimbing dan memberikan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan oleh masyarakat.

Kenapa sasaran kepada keluarga? Karena keluarga yang terdiri dari suatu pasangan suami istri dan anak yang biasanya tinggal dalam satu rumah yang sama merupakan wadah serta proses pertama pergaulan hidup. Dalam konsep keluarga, proses sosialisasi berlangsung, dan peran dan nilai sosial yang berfungsi untuk mempertahankan kelangsungan sistem sosial diajarkan pada anggotanya. Dengan begitu keluarga merupakan tahap pertama dan inti terkecil dalam masyarakat.

Adapun pembinaan teritorial menggunakan pola keluarga asuh dilakukan dengan cara intervensi untuk mengembangkan keterampilan dan membangun diri sendiri. Berdasarkan pada model sistem keluarga, intervensi yang dilakukan akan menimbulkan perubahan pada satu bagian sistem keluarga (yaitu seorang anggota keluarga) dan akan mempengaruhi bagian-bagian lain dalam sistem tersebut (yaitu keseluruhan keluarga). Intervensi melibatkan pemberian anjuran kepada masyarakat, baik itu anjuran untuk meneruskan dan memperluasnya maupun anjuran untuk menghentikan usahanya dan melakukan sesuatu yang berbeda. Dengan begitu, masyarakat dapat menjabarkan kesuksesannya dan membantu mengangkat rasa percaya dirinya.

Sehingga dalam konteks pembinaan teritorial ini, intervensi yang dilaksanakan dengan metode keluarga asuh adalah aktivitas untuk melaksanakan pemberdayaan dan memberikan dukungan serta pendampingan terhadap keluarga sebagai unit terkecil, yang terdiri dari ayah, ibu dan anak maupun lingkungan kampung di perbatasan. Intervensi di sini bertujuan agar keluarga sebagai unit terkecil maupun lingkungan kampung mau melaksanakan dan mampu untuk mengubah kebiasaan ataupun aktivitasnya dalam mempertahankan dan meningkatkan taraf kehidupannya.
Keluarga Asuh Satgas Pamtas Yonif 407/PK

Metode keluarga asuh dalam pembinaan teritorial yang dilaksanakan oleh Satgas yonif 407/PK merupakan salah satu pola dalam rangka pemberdayaan masyarakat perbatasan. Pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat perbatasan berkembang. Dengan didasarkan pada asumsi bahwa tidak ada masyarakat yang sama sekali tanpa memiliki daya. Setiap masyarakat pasti memiliki daya, akan tetapi terkadang tidak disadari atau daya tersebut masih belum diketahui atau ditemukan. Oleh karena itu, daya harus digali dan kemudian dikembangkan dengan cara mendorong, memotivasi dan membangkitkan kesadaran akan potensi yang dimiliki serta berupaya untuk mengembangkannya.

Pemberdayaan masyarakat oleh Satgas Pamtas berupaya agar masyarakat perbatasan tidak masuk dalam perangkap ketergantungan, namun sebaliknya harus mengantarkan pada proses kemandirian. Pengembangan pemberdayaan masyarakat oleh Satgas Pamtas Yonif 407/PK dimasukkan dalam program unggulan Satgas Pamtas Yonif 407/PK.

Program keluarga asuh diawali dengan melakukan komunikasi sosial dengan masyarakat. Membangun komunikasi antara Prajurit dan masyarakat akan menimbulkan perasaan kekeluargaan, bahwa masyarakat merupakan bagian dari keluarga prajurit sehingga tidak ada jarak antara prajurit Satgas dengan masyarakat.

Pembangunan komunikasi sosial dengan masyarakat, baik itu anjangsana maupun komunikasi langsung, digunakan untuk memelihara dan meningkatkan hubungan sehingga akan terwujud saling pengertian dan kebersamaan yang memungkinkan timbulnya partisipasi masyarakat. Komunikasi sosial dilakukan dalam upaya merebut hati dan pikiran rakyat serta mendapatkan dukungan rakyat terhadap program pembinaan yang dilakukan oleh prajurit Satgas. Tali silaturahmi dan ikatan kekeluargaan di antara prajurit Satgas dan masyarakat akan terjalin. Keterjalinan hubungan tersebut berdaya guna untuk mencari solusi terbaik dalam mengatasi setiap permasalahan yang terjadi di wilayah.

Hubungan persaudaraan ini tentunya akan menimbulkan perasaan batin yang kuat. Apa yang menjadi keinginan masyarakat dan program-program yang baik dapat sampai ke masyarakat. Pada akhirnya, masyarakat akan mengikuti dengan sukacita karena tidak ada perbedaan antara masyarakat dan Satgas. Dengan mengedepankan rasa persaudaraan dan menganggap masyarakat perbatasan merupakan saudara, maka akan memudahkan untuk membentuk keluarga asuh. Pos-pos perbatasan yang memiliki kampung binaan membentuk keluarga asuh. Tiap-tiap prajurit perbatasan di pos tersebut diwajibkan memiliki 1 (satu) keluarga asuh atau lebih sesuai dengan jumlah keluarga di kampung binaan.
Wujud Keluarga Asuh

Dari pola pembinaan teritorial dengan metode keluarga asuh terwujud beberapa potensi yang dapat dikembangkan dan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup, selain dapat dijadikan sebagai sumber pendapatan keluarga. Secara umum, sasaran kepada masyarakat adalah bagaimana masyarakat dapat memanfaatkan lahan dan pekarangan, di mana masyarakat perbatasan masih mengandalkan kekayaan alam yang ada di hutan. Bertahan hidup dengan hasil berburu, mencari ikan, maupun tanaman sagu.

Harapannya, dalam kondisi dan cuaca apapun, masyarakat dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dengan mengelola lahan dan pekarangan sekitar lingkungan rumah dan kampungnya. Aktualisasi dari program keluarga asuh antara lain kegiatan berkebun, keterampilan membuat meja kursi, pelihara bebek dan ayam kampung, membuat kue donat serta pembuatan ikan asin dari ikan gabus.

Kegiatan berkebun di tiap-tiap keluarga dengan memberikan bibit, mengajari cara menanam dan merawat tanaman untuk mendapatkan hasil yang baik. Lahan dan pekarangan yang sebelumnya kosong dan hanya ditumbuhi rumput berubah menjadi tanaman yang memberikan hasil panen yang lebih baik dan dapat menambah penghasilan keluarga.

Ide pembuatan meja dan kursi diawali dari patroli keamanan yang dilaksanakan oleh prajurit Satgas Pamtas yang berada di Pos Bokem. Pada saat menyusuri pantai, banyak terdapat pohon mati yang tidak dipergunakan oleh masyarakat. Kayu mati tersebut kemudian diolah menjadi meja dan kursi yang artistik. Satgas memberdayakan masyarakat Kampung Bokem dengan mengajari keterampilan membuat meja dan kursi dengan memanfaatkan bahan kayu yang tadinya tidak berguna menjadi barang yang mempunyai nilai. Sementara di wilayah Pos Tomerau, pembuatan ikan asin dari bahan baku ikan gabus yang melimpah pada musim tertentu merupakan cara mengoptimalkan ikan gabus di desa Tomerau untuk meningkatkan hasil pengolahan hingga mampu menjadi sumber penghasilan bagi sebagian masyarakat Tomerau. Sementara itu di wilayah Pos Rawabiru, anggota Pos memberikan bimbingan pembuatan kue donat kepada sebagian masyarakat Rawabiru sampai bisa membuat kue sendiri sehingga setelah bisa membuat sendiri dan menjual hasil produksinya akan dapat menambah penghasilan keluarga. Di kampung Sota masyarakat dianjurkan dan dibimbing untuk pelihara ayam kampung dan bebek karena selain menghasilkan telur, ayam dan bebek juga mudah dijual maupun dikunsumsi sendiri untuk menambah gizi keluarga.

Kegiatan keluarga asuh tersebut merupakan cara untuk memudahkan terjadinya alih pengetahuan kepada masyarakat dengan melihat potensi dari kampung yang berbeda-beda. Keterampilan-keterampilan tersebut diajarkan prajurit Satgas kepada keluarga asuhnya sehingga keluarga yang mengikuti diharapkan bisa menularkan ke keluarga yang lain di dalam kampung tersebut.
Penutup

Pembinaan teritorial terhadap warga masyarakat yang bermukim di wilayah perbatasan akan membantu keberhasilan pelaksanaan pengamanan perbatasan. Hal ini dapat terwujud dengan peran serta masyarakat dalam menjaga keamanan perbatasan dihadapkan pada wilayah yang luas dengan memberikan informasi tentang perkembangan situasi di perbatasan. Peran masyarakat tersebut ikut membantu menjaga kedaulatan negara, seperti membantu menjaga batas negara dan patok batas, melaporkan bila mengetahui tindak kejahatan atau kegiatan ilegal di perbatasan dan menumbuhkan budaya wajib lapor kepada masyarakat perbatasan.

Dengan adanya alih pengetahuan dan keterampilan kepada masyarakat perbatasan, diharapkan akan dapat merubah pola pikir dan kebiasaan masyarakat yang lama yaitu menggantungkan hidup dengan cara menjadi peramu hutan dan berburu. Hasil dari perubahan tersebut akan tercipta pembangunan wilayah perbatasan yang pada akhirnya akan mendukung tugas TNI di perbatasan. Pembangunan yang dilakukan melalui pendekatan keamanan dan kesejahteraan secara berdampingan sehingga masyarakat perbatasan tidak terbelenggu dalam kemiskinan, keterbelakangan dan keterisolasian. Rendahnya sumber daya manusia maupun ekonomi akan melemahkan pertahanan negara, sementara pertahanan negara merupakan tanggung jawab bersama di mana seluruh komponen bangsa harus turut terlibat di dalamnya.
Penulis

Letkol Inf Abi Kusnianto
Dansatgas Pamtas RI-PNG Yonif 407/Padmakusuma

Twitter widget by Rimon Habib - BuddyPress Expert Developer