BERITA TERBARU
Home / Berita Satuan / Pagelaran Wayang Semalam Suntuk Dalam Rangka Hari Tasyakuran TMMD Sengkuyung II
Pagelaran Wayang Semalam Suntuk Dalam Rangka Hari Tasyakuran TMMD Sengkuyung II

Pagelaran Wayang Semalam Suntuk Dalam Rangka Hari Tasyakuran TMMD Sengkuyung II

Irama gamelan yang rancak berpadu dengan suara merdu para sinden, seolah-olah ikut masuk menjadi salah satu tokoh dalam kisah dalam pertunjukan wayang kulit semalam suntuk yang dihelat oleh Pemerintahan Desa Kalicupak Lor Kec. Kalibagor Kab. Banyumas dalam rangka tasyakuran TMMD Sengkuyung II wil. Kodim 0701/Banyumas. Pertunjukan hiburan wayang kulit semalam suntuk tersebut dibawakan oleh Ki Guntur Riyanto dari Maos, Cilacap. (16/11)

Dalam sambutannya Kepala Desa Kalicupak Lor  menyampaikan bahwa kesenian wayang kulit adalah kesenian tradisional Indonesia dan merupakan kebudayaan asli Indonesia,  dengan digelarnya pertunjukan wayang kulit semalam suntuk ini mampu memberikan hiburan kepada masyarakat Desa Kalicupak dan mengingatkan kepada seluruh masyarakat  agar tetap menjaga persatuan dan kesatuan serta kebersamaan agar tercipta kerukunan hidup antar umat beragama.  Juga sebagai ungkapan rasa syukur kami, warga Kalicupak Lor atas selesainya program TMMD Di Desa Kalicupak Lor.

Dalam pertunjukan wayang kulit semalam suntuk Ki Guntur Riyanto mengambil cerita  JAGAL ABILAWA mengisahkan bahwa Jagal Abilawa (muka dan sekujur badannya hitam) adalah nama samaran Raden Bratasena,yakni nama Wrekodara, pada waktu ia masih muda.

Dalam penyamarannya,  Bima alias Abilawa bekerja sebagai penyembelih hewan ternak . Dalam bahasa Jawa profesi penyembelih ternak itu disebut  jagal. Sebutan profesi itu melekat pada namanya, yaitu  Jagal Abilawa.  Ia bekerja pada seorang juru masak Istana Wirata bernama Demang  Welakas.

Bima adalah seorang tokoh protagonis dalam wiracarita Mahabharata. Ia merupakan putra Kunti, dan dikenal sebagai tokoh Pandawa yang kuat, bersifat selalu kasar dan menakutkan bagi musuh, walaupun sebenarnya berhati lembut. Di antara Pandawa, dia berada di urutan kedua dari lima bersaudara. Saudara seayahnya ialah Hanomanwanara terkenal dalam epos Ramayana. Mahabharata menceritakan bahwa Bima gugur di pegunungan bersama keempat saudaranya setelah Bharatayuddha berakhir. Cerita tersebut dikisahkan dalam jilid ke-18 Mahabharata yang berjudul Mahaprasthanikaparwa. Bima setia pada satu sikap, yaitu tidak suka berbasa-basi, tak pernah bersikap mendua, serta tidak pernah menjilat ludahnya sendiri.

Ketua Persit Kartika Chandra Kirana Cab XVI Kodim 0701/Bms Ny Mila Karmila hadir dalam acara tasyakuran ini.  Ny Mila mengatakan bahwa kita bisa mencontoh sifat-sifat dari tokoh pewayangan  Bima setia pada satu sikap, yaitu tidak suka berbasa-basi, tak pernah bersikap mendua, serta tidak pernah menjilat ludahnya sendiri, gagah berani, teguh, kuat, tabah, patuh dan jujur, serta menganggap semua orang sama derajatnya.

Turut hadir dalam Pertunjukan wayang kulit semalam suntuk ini Danramil 08/Kalibagor beserta Ibu, Muspika Kec. Kalibagor, Kepala Desa Kalicupak Lor beserta perangkatnya,   Kapolsek  Kalibagor dan masyarakat sekitar.

 

Twitter widget by Rimon Habib - BuddyPress Expert Developer