BERITA TERBARU
Home / Uncategorized / Peleton Beranting Tumbuhkan Jiwa Korsa Korps Infanteri Prajurit TNI

Peleton Beranting Tumbuhkan Jiwa Korsa Korps Infanteri Prajurit TNI

Ratusan prajurit Kodam IV/Diponegoro dengan berjalan kaki melaksanakan Peleton Beranting (Tonting) dilepas oleh Danrem 073/Makutarama  Kolonel Joseph Robert Giri, S.I.P.,M.SI. pada tanggal 16 Desember 2016  di alun-alun Jepara menempuh etape dari etape I hingga etape XI yang berakhir di Dodiklatpur Alun-Alun Klaten.

Rute yang ditempuh berawal dari etape I di Alun-alun Jepara, etape II star di lapangan Wates Dermolo Kembang, Jepara (16/12), etape III  star di lapangan Purwokerto Tayu, Pati (16/12), etape IV star di lapangan Wedarijaksa, Pati (17/12), etape V star di lapangan desa Kayen, Pati (17/12), etape VI star di desa Grobogan kecamatan Grobogan (17/12), etape VII star di lapangan desa Monggot Geyer, Grobogan, etape VIII star di lapagan SMK Sukowati, Gemolong Sragen (18/12), etape IX star di lapangan Kedunglingkong Simo Boyolali (18/12), etape X star di lapagan desa Sudimoro Teras Boyolali (18/12), dan etape XI berakhir star di Dodiklatpur Klaten dan finish di alun-alun Klaten.

Sebagai puncak dari perjalanan etape terakhir di alun-alun Klaten dilaksanakan upacara Hari Infanteri yang dipimpin Kasdam  IV/Diponegoro Brigjen TNI Joni Supriyanto dan dihadiri para pejabat jajaran Kodam IV/Diponegoro.

Tonting tersebut dilaksanakan dalam rangka untuk menumbuhkan jiwa korsa dan rasa bangga terhadap Korps Infanteri maka perlu adanya Tradisi Korps Infanteri Peleton Beranting Yudha Wastu Pramuka Jaya karena melalui kegiatan ini akan timbul rasa persatuan dan kesatuan dan rasa kebersamaan yang terjadi antara sesama prajurit yang dalam kondisi capek, lelah, haus, mereka harus berjuang bersama untuk mempertahankan keutuhan satuannya sampai kesasaran sehingga apabila hal ini tercapai maka akan membawa rasa bangga yang tinggi sebagai prajurit Infanteri.

Salah satu catatan peristiwa penting yang menjadi tonggak sejarah Infanteri adalah peristiwa menghadapi Agresi Militer Belanda II tanggal 19 Desember 1948, saat Panglima Besar Jenderal Sudirman mengeluarkan perintah kilat No. 1/PB/D/1948 yang ditujukan kepada angkatan perang RI untuk menjalankan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya yaitu perintah perintah siasat No. 1/1948 tanggal 12 Juni 1948, untuk melawan musuh dengan melaksanakan perang rakyat semesta dimana pasukan-pasukan yang hijrah melaksanakan aksi WINGATE (INFILTRASI) ngan cara Long March kembali ke wilayah masing-masing membentuk WEHRKREISE (kantong-kantong  kekuatan) sebagai titik kuat pertempuran gerilya.

Sementara itu, Danpussenif Kodiklat TNI AD Mayjen TNI Surawahadi, S.I.P, M.Si. dalam amanat tertulis  pada upacara Hari Infanteri tahun 2016 yang dibacakan Kasdam IV/Diponegoro menyampaikan, dari peristiwa 19 Desember 1948, prajurit  mendapatkan nilai-nilai ketokohan, patriotisme, kepemimpinan dari seorang Panglima Besar Jenderal Sudirman, nilai kejuangan, profesionalisme keprajuritan dan sifat pantang menyerah serta nilai kemanunggalan TNI dengan rakyat yang harus selalu terpatri dalam jiwa, sikap dan tindakan setiap prajurit Infanteri. Selanjutnya ditetapkan sebagai “Hari Infanteri”.

Sejak ditetapkan sebagai Hari Infanteri, maka peran, tugas dan fungsi TNI AD khususnya prajurit Infanteri tidak dapat dipisahkan dengan lingkungan masyarakat sekitarnya.

“Bersama rakyat, satuan Infanteri harus dapat menggaungkan kembali semangat yang dikobarkan para pejuang di masa lalu, semangat Indonesia dan semangat untuk menegakkan jati diri sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat “, jelas Mayjen TNI Surawahadi, S.I.P, M.Si.

Hal tersebut   sesuai dengan tema Hari Infanteri “Dengan Semangat Yudha Wastu Pramukha, Prajurit Infanteri Bersama Rakyat Kuat, Hebat dan Profesional Guna Meningkatkan Kemanunggalan TNI Rakyat Dalam Rangka Mendukung Tugas Pokok TNI AD”. Tema tersebut mencerminkan komitmen dan tekad yang kuat prajurit dan satuan Infanteri untuk menjadi tangguh, profesional dan modern, sebagai petarung yang handal dalam pertempuran.

“Infanteri sebagai QUEEN OF BATTLE seperti permainan catur, prajurit  memiliki kemampuan untuk bergerak disegala bentuk medan pertempuran baik di hutan, gunung, rawa, laut, sungai dan pantai”, ungkap Danpussenif.

Diakhir amanat, Danpussenif berharap, agar para prajurit tetap menjaga hubungan harmonis yang telah terjalin dan dapat terus ditingkatkan dan dikembangkan  di masa yang akan  datang untuk membangun dan menjaga negeri yang kita dicintai.

Twitter widget by Rimon Habib - BuddyPress Expert Developer