BERITA TERBARU
Home / Berita Satuan / Pengajian Maulud Nabi Muhammad SAW dan Khaul Kiai Anwar bin Kiai Munawar ke-26
Pengajian Maulud Nabi Muhammad SAW dan Khaul Kiai Anwar bin Kiai Munawar ke-26

Pengajian Maulud Nabi Muhammad SAW dan Khaul Kiai Anwar bin Kiai Munawar ke-26

Brebes, Senin Malam (9/2) Pengajian Maulud Nabi Muhammad SAW dan Khaul Kiai Anwar bin Kiai Munawar ke-26 di Kaligangsa Kulon. Acara Pengajian Maulud Nabi Muhammad SAW juga dihadiri Bupati Brebes Idza Priyanti berikut suami Kompol Warsidin , Dandim 0713/Brebes yangdiwaklili Danramil 01/Brebes Kapten Arh Dirman, Kapolres Brebes AKBP Ferdy Sambo, Wakil Ketua DPRD Brebes Warsudi SpdI, Sekda Emasthoni Ezam dan Rais Syuriah PCNU Brebes KH. Aminudin Mashudi.

Ketua Panitia DR H Illia Amin, menjelaskan, kegiatan Maulud Nabi secara rutin digelar diberbagai pelosok Brebes. Bahkan DPRD Brebes telah sigap menjadi Ketua Panitia penyelenggara. “DPRD setiap tahun siap untuk menjadi Panitia Maulud Nabi dan akan menyediakan anggaran yang sesuai,” tutur ketua Panitia yang disampaikan oleh Wakil Ketua DPRD Brebes Warsudi SPdI.

Adalah sangat aneh, ketika ada sekelompok umat Muslim yang tidak mau menghormati Nabinya dengan dalih perayaan Maulud Nabi hanya menghambur-hamburkan uang lebih baik untuk Santunan Yatim.

“Kalau penghormatan kepada Nabi hanya sekadar santunan yatim, serendah itukah nabi dengan cuma santunan?” tandas Habib Lutfi saat mengisi Pengajian Maulud Nabi Muhammad SAW dan Khaul Kiai Anwar bin Kiai Munawar ke-26 di Kaligangsa Kulon

Di depan ribuan jamaah yang hadir, Habib mengajak kepada umat Islam untuk secara tegas menjunjung kehormatan para Nabi dan Rasul, Tabiit Tabiin, aulia, ulama dan umara di sekitar kita.

Dia mencontohkan, ketika Presiden Pertama RI Ir Soekarno dihormati sepenuhnya oleh rakyat karena telah memproklamirkan kemerdekaan RI, maka Indonesia berwibawa di mata dunia.

Mewujudkan kewibawaan bangsa bisa dilakukan dengan membiasakan hidup saling menghormati. Menghormati kepada yang lebih tua dan menyayangi kepada yang muda. Dalam artian bukan menyembah tetapi penghormatan atau takdim kepada yang seharusnya dihormati.

“Kewibawaan bangsa, Negara, daerah dan keluarga bisa tercipta karena saling menghormati,” ujar Ra’is ‘Am jam’iyah Ahlu Thariqah al Mu’tabarah an Nahdliyah Maulana Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya lagi.Ketika ada seorang Kepala Desa misalnya, lanjut Habib, harus dihormati kepemimpinannya meskipun usianya mungkin masih muda maka harus dihormati.

“Ketika ada seorang ulama besar kemudian menghormati Kepala Desa saat di desanya, itu bukti kewibawaan ulama itu sendiri akan terangkat. Desa tersebutpun akan disegani karena masing-masing saling menghormati,” tegasnya.

Twitter widget by Rimon Habib - BuddyPress Expert Developer