BERITA TERBARU
Home / Berita Satuan / PENINJAUAN PROGRAM SWASEMBADA PANGAN
PENINJAUAN PROGRAM SWASEMBADA PANGAN

PENINJAUAN PROGRAM SWASEMBADA PANGAN

Program serapan gabah ( Sergap ) dalam rangka menyukseskan program swasembada pangan terus berjalan. Untuk mengetahui secara langsung dilapangan Mabes TNI menurunkan Tim agar mengecek dan mengevaluasi sejauh mana tingkat keberhasilan program swasembada pangan. Yang meliputi pengecekan Penyerapan beras di gudang Bulog Sawangan Kab.Wonosobo apakah sudah sesuai dengan target ; Menanyakan kendala dan solusi Kedepan agar Penyerapan dapat mencapai sesuai target ; dan penyewaan gudang untuk menampung Penyerapan beras sesuai ketentuan yang berlaku dengan SOP (Standar Operating Prosedur) Bulog. (13/8)

Kol.Chb Ricky FW mengecek Gudang Bulog Sawangan Wonosobo yang diterima oleh kepada Bulog Wonosobo Diky. Kepala Bulog menyampaikan kendala yang dialami yaitu terbatasnya daya tampung gudang yang dimiliki yaitu hanya menampung 3.000 ton saja, tidak memiliki gudang penyimpan gabah, tidak mempunyai tempat jempur padi dan yang paling menonjol adalah kualitas gabah yang ada di Wonosobo bagus sehingga tidak masuk dalam kelompok beras medium sehingga berdampak pada daya serap sangat minim.
Kol.Chb Ricky FW meninjau lahan sawah yang siap panen dilanjutkan komunikasi interaktif dengan Kelompok Tani Raharjo Ds.Mungkung dan Kelompok Tani Mangunrejo Ds.Mangunrejo Kec.Kalikajar Kab.Wonosobo. Peninjauan ini dimaksudkan agar para pimpinan mengetahui secara langsung dilapangan berkaitan dengan program swasembada pangan, sebagai bahan evaluasi.
Kolonel Ricky menyaksikan secara langsung transaksi jual beli gabah dari petani kepada Bulog. Setelah dicek tingkat kekeringan dan mutunya disepakati harga gabah sebesar Rp 4.300,-/Kg. Harga tersebut memang lebih murah bila dibandingkan dengan harga pasaran gabah dibeli oleh para tengkulak. Harga yang biasanya adalah berkisar 4.500 – 4.700 untuk jenis ciherang.
Ini bisa terjadi karena pemilik gabah diberi pengertian akan pentingnya kestabilan stok beras di Indonesia. Bangsa Indonesia tidak ingin dijajah lagi khususnya masalah pangan. Kolonel Dicky menuturkan lebih lanjut bahwa kalau pemerintah mengimpor beras dari luar dengan kondisi baik itu hanya sekitar Rp 4.000 saja. Bila hal ini dibiarkan akan merugikan petani kita. Karena beras di pasaran mulai harga 8.000 – 11.000 bahkan untuk beras tertentu bisa lebih. Jual beli tersebut disaksikan oleh Komandan Kodim Letkol Dwi Hariyono, Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Abdul Munir.

Para petani diberi pengertian bahwa saat ini sudah berlangsung pasar bebas, semua barang dari luar bisa masuk ke Indonesia dengan harga yang lebih murah, untuk itu para petani diharapkan dalam mengelola lahan menggunakan cara – cara yang sudah diinstruksikan dari dinas Pertanian sehingga bisa meningkatkan hasilnya. Apabila hasil bisa meningkat maka para petani bisa lebih sejahtera.
Kepedulian ini bisa menjadi contoh bagi para petani lainnya agar mau menjual hasil panen ke Bulog. Kita jangan hanya melihat kerugian yang ada bila dibandingkan dengan menjual kepada para tengkulak akan tetapi kita lihat manfaatnya bila kita menjual ke Bulog. Salah satunya adalah beras yang ada di Bulig sebagai penyetabil harga pasaran; beras Bulog dijual ke masyarakat miskin hanya Rp 1.700 saja. Jadi tanpa kita sadari ternyata kita sudah membantu saudara – saudara kita.
Dan yang perlu diingat bahwa sudah seberapa banyak para kelompok tani mendapat bantuan dari pemerintah, mulai dari pupuk, bibit, obat, pendampingan dari para PPL bahkan alat pertanian seperti traktor dan semprot pun para kelompok tani juga sudah diberi. Tidak ketinggalan apabila ada irigrasi yang rusak pemeritah juga tidak tinggal diam. Oleh sebab itu tidak ada alasan lagi bagi para petani merasa rugi apabila menjual sebagian hasil panen ke Bulog. Bulog tidak membeli semua gabah petani, Bulog hanya minta 10 % saja dari hasil panen.

Memang saat ini kita sadari bersama bahwa ada sebagian oknum yang berusaha mempermainkan harga – harga kebutuhan masyarakat. Ada juga yang menginginkan agar Bulog itu tidak ada. Sehingga mereka bisa leluasa mempermainkan harga dan mendapatkan untung yang berlimpat ganda. Itu merupakan jiwa – jiwa penghianat bangsa.
Dalam dialog dengan para petani menyampaikan permasalahan yang sedang dihadapi yaitu tentang bantuan traktor yang diterima terlalu besar sehingga tidak cocok dengan kondisi medan Wonosobo, hal ini berdampak traktor tidak dapat digunakan, permasalahan kedua adalah jebolnya tanggul Mrica. Sehingga lahan seluas 43 ha tidak dapat ditanami padi sehingga para petani beralih dalam menanam, semula sawah sekarang menjadi ladang. Untuk itu mereka memohon agar bisa dibangunkan kembali tanggul tersebut.

Twitter widget by Rimon Habib - BuddyPress Expert Developer