BERITA TERBARU
Home / Berita Satuan / Tanaman Jagung Hibrida di Wilayah Wonosobo
Tanaman Jagung Hibrida di Wilayah Wonosobo

Tanaman Jagung Hibrida di Wilayah Wonosobo

Program ketahanan pangan yang digalakan oleh pemerintah tidak hanya tanaman padi saja akan tetapi juga tanaman pangan yang lain khususnya jagung dan kedelai.   Kedua jenis tanaman tersebut Indonesia masih impor dari Negara lain.  Karena kebutuhan akan jagung dan kedelai cukup tinggi sedangkan kemampuan produksi yang ada saat ini masih sedikit sehingga belum mencukupi kebutuhan dalam negeri.   Ketergantuan akan bahan makanan tersebut membuat pemerintah untuk mencoba untuk berusaha memenuhi kebutuhan yang ada sehingga kestabilan kesejahteraan pangan dapat tercapai.

Kondisi lahan yang ada di Wonosobo tidak semua bisa ditanami padi maka di beberapa desa menanam tanaman lain seperti yang dilakukan oleh kelompok tani Kembang Jambu  Desa Tlogojati dalam upaya membantu pemerintah menciptakan swasembada pangan mereka menanam jagung jenis hibrida.  Belum lama ini  Danramil Kapten Inf Punidi dan Penyuluh Pertanian mendampingi para petani dari pengolahan lahan sampai dengan panen jagung. Selain   panen jagung juga dilaksanakan penyuluhan tentang perawatan tanaman jagung dan panen padi. Ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian pemerintah dalam membantu kesejahteraan para petani.

Pendampingan kepada para kelompok tani diberikan metode pengolahan lahan  yang baik,  pemilihan jenis tanaman yang cocok dengan iklim setempat, cara pembrantasan hama, pemupukan sampai dengan panen yang benar.  Untuk masyarakat desa dalam proses penanaman tidak serentak sehingga dalam satu wilayah serta jenis yang ditanam berbeda – beda membuat para Babinsa dan PPL dalam memberikan penyuluhan dan pendampingan ke kelompok tani berbeda – beda disesuaikan dengan kondisi tanaman yang ada saat itu.

Para Babinsa dan PPL Pertanian dalam pendampingan ke para petani dilakukan secara langsung terjun dilapangan.  Mereka tidak membutuhkan pengarahan akan tetapi praktek langsung dilapangan sehingga bila terjadi permaslahan dapat diatasi secara bersama – sama.  Para petani tidak membutuhkan ceramah akan tetapi lebih kepada praktek dilapangan.  Manfaat dari praktek dilapangan adalah semakin eratnya hubungan emosional antara petani, babinsa dan PPL.  Ini sangat bagus bila bisa diterapkan kepada seluruh sektor pemerintahan.  

Twitter widget by Rimon Habib - BuddyPress Expert Developer